У нас вы можете посмотреть бесплатно DI DEPAN ROCKY GERUNG, MENKEU PURBAYA "JOKOWI ENGGAK NGAPA-NGAPAIN?" TUNTAS!! SEMUANYA DIJELASIN или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan pidato utama yang menarik perhatian dalam acara GREAT Lecture yang diselenggarakan oleh GREAT Institute, 11 September 2025. Dalam pidatonya yang berjudul "Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan Inklusif Menuju 8%", Purbaya tidak hanya memaparkan visi ambisius untuk ekonomi Indonesia, tetapi juga menyajikannya dengan humor cerdas dan sindiran ringan, terutama kepada filsuf terkenal, Rocky Gerung, yang turut hadir dalam acara tersebut. Mengawali pidatonya dengan candaan bahwa penunjukannya sebagai Menteri Keuangan adalah hasil "promosi lebur" dari rencana awal untuk menjadi Ketua LPS lagi, Purbaya segera membawa audiens ke inti permasalahan. Ia menekankan pentingnya Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan pertumbuhan 5% pascakrisis 1998, yang berisiko memerangkap negara dalam "middle income trap." Mencontoh Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang mencapai pertumbuhan dua digit selama puluhan tahun untuk menjadi negara maju, Purbaya menegaskan bahwa target 8% bukanlah hal yang mustahil. Menurut Purbaya, kekuatan terbesar Indonesia terletak pada permintaan domestik, yang meliputi konsumsi dan investasi, menyumbang hampir 90% dari total ekonomi. Ini berarti Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan gejolak ekonomi global, asalkan kebijakan domestik dikelola dengan baik. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara sektor pemerintah dan swasta sebagai dua mesin penggerak utama. Mengutip Sumitro Djojohadikusumo, Purbaya mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi harus bertumpu pada pemerataan, stabilitas nasional yang dinamis, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Salah satu sorotan utama dalam pidatonya adalah perdebatan mengenai peran kebijakan moneter. Mengacu pada teori Milton Friedman, Purbaya menekankan bahwa indikator utama keberhasilan kebijakan moneter bukanlah suku bunga, melainkan laju pertumbuhan uang beredar (M0 atau basis moneter). Ia menunjukkan data bahwa pengeringan likuiditas dalam sistem keuangan, baik karena penyerapan pemerintah di Bank Sentral maupun intervensi pasar Bank Sentral, telah menghambat pertumbuhan ekonomi. Purbaya mengungkapkan intervensi langsung Presiden Joko Widodo saat krisis COVID-19 untuk memastikan uang beredar di masyarakat, yang menjadi kunci pemulihan ekonomi saat itu. Menghadapi potensi perlambatan ekonomi kembali, Purbaya menegaskan komitmennya sebagai Menteri Keuangan untuk memastikan aliran dana yang cukup ke sistem. Ini termasuk memastikan penyerapan anggaran kementerian/lembaga yang lebih baik dan memberikan kelonggaran transfer ke daerah untuk menjaga stabilitas sosial dan politik. Dengan pengalaman krisis yang sudah teruji, Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki pengetahuan dan alat untuk mengendalikan ekonominya sendiri, tidak akan terperosok lagi seperti krisis 1997-1998. Pidato ini menyajikan optimisme yang kuat terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Purbaya Yudhi Sadewa percaya bahwa dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, serta dukungan dari seluruh elemen bangsa, pertumbuhan ekonomi di atas 6% dapat dicapai dalam waktu singkat, membuka jalan menuju target 8% yang lebih ambisius melalui reformasi struktural jangka panjang.