У нас вы можете посмотреть бесплатно "Returning to the Path of Joyful Learning" или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Back to School: Returning to the Path of Joyful Learning Liburan akhir tahun telah usai. Tawa yang memenuhi hari-hari kemarin perlahan mereda, digantikan oleh langkah yang kembali mengarah ke sekolah—tempat di mana ilmu dan mimpi bertemu, tempat di mana setiap anak diberi kesempatan untuk tumbuh dengan caranya sendiri. Tahun baru bukan hanya tentang kalender yang berganti, tetapi juga kesempatan untuk membuka lembar belajar yang lebih luas, lebih damai, dan lebih sesuai dengan diri kita. Kembali ke sekolah bukan berarti memaksakan diri untuk membawa beban sebesar dunia. Bila yang kita mampu hanya seember, tidak perlu dipaksa menjadi setangki. Bila yang mampu satu gentong, tidak usah diperkecil hanya karena orang lain berkata demikian. Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk menemukan irama belajarnya sendiri—bukan perlombaan yang membuat mereka kehilangan kegembiraan, bukan pula paksaan untuk menjadi seragam seperti pola yang dipahat dari satu cetakan saja. Setiap anak terlahir dengan dunia kecilnya sendiri: ada yang matanya berbinar saat melihat angka dan percobaan sains, ada yang hatinya melompat gembira ketika membaca puisi atau menulis cerita. Ada yang telinganya peka pada melodi, ada pula yang jemarinya lincah mengolah tanah dan warna. Belajar seharusnya menjadi perjalanan menemukan bakat-bakat itu, bukan menanamkan ketakutan bahwa mereka harus menguasai segalanya. Namun, sering kali ada yang keliru di negeri ini. Anak-anak dijejali ilmu yang tidak sesuai dengan usianya, dipaksa memahami rumus yang bahkan orang dewasa pun tidak hafal, diminta menghafal konsep yang belum waktunya mereka cerna. Mereka seolah diminta berlari sebelum diajari cara berjalan. Padahal masa kanak-kanak tidak bisa diulang. Masa itu seharusnya diisi tawa, permainan, rasa ingin tahu, dan logika sederhana yang tumbuh alami tanpa tekanan. Biarkan anak-anak bermain, karena dari permainan mereka belajar kerja sama, keberanian, dan kreativitas. Biarkan mereka bertanya hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele—karena dari situlah rasa ingin tahu berkembang. Biarkan mereka belajar sesuai iramanya, sesuai kapasitasnya, sesuai kegemaran dan kekuatannya. Sebab ketika anak-anak dibiarkan tumbuh alami, kemampuan mereka justru berkembang lebih jauh daripada apa yang bisa dipaksakan melalui tekanan dan target tak realistis. Kita perlu sekolah yang mengajarkan anak mencintai belajar, bukan takut pada belajar. Sekolah yang memberi ruang bagi tawa, bukan hanya angka. Sekolah yang mempersiapkan masa depan, tanpa menghilangkan masa kecil. Jika kita memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan dirinya, kita kehilangan potensi terbaik mereka—dan mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Maka saat langkah kecil itu kembali memasuki gerbang sekolah, ingatlah: pendidikan bukan sekadar mengisi kepala, tetapi menuntun hati. Bukan menjejalkan sebanyak mungkin, tetapi mengenalkan pada ilmu yang membuat mereka ingin terus tumbuh. Belajar itu perjalanan panjang, dan setiap anak berhak menjalaninya dengan bahagia, dengan rasa aman, dan dengan caranya sendiri. Selamat kembali ke sekolah. Belajarlah dengan ringan, tumbuhlah dengan gembira, dan menjadi dirimu adalah pencapaian terbaik dari semuanya.