У нас вы можете посмотреть бесплатно Detik-detik Saat Danyon 454 Menolak Perintah Mayjen Soeharto или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Detik-detik Saat Danyon 454 Menolak Perintah Mayjen Soeharto Detik-detik saat Danyon 454 menolak perintah Mayjen Soeharto agar pasukannya bergabung ke Kostrad. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Ada pun Danyon atau Komandan Batalyon 454 yang menolak perintah Mayjen Soeharto adalah Mayor Sukirno. Nasib Sukirno sendiri pasca peristiwa G30S PKI sungguh tragis. Mati tertembak oleh pasukan Angkatan Darat yang memburunya saat dalam pelarian. Yon 454 yang dipimpin Sukirno adalah pasukan pemukul Kodam Diponegoro yang dikenal dengan julukan Banteng Raider. Pasukan andal ini dibentuk oleh Letjen Achmad Yani salah satu jenderal yang jadi korban penculikan komplotan Gerakan 30 September. Pasukan Yon 454 saat peristiwa Gerakan 30 September meletus sedang ada di Jakarta dalam rangka akan ikut dalam perayaan hari ulang tahun ABRI ke 20 yang rencananya digelar pada 5 Oktober 1965. Pasukan ini berhasil diperalat oleh komplotan Letkol Untung Syamsuri bersama dengan pasukan Yon 530 dari Kodam Brawijaya yang juga ada di Jakarta dalam rangka akan ikut merayakan hari ulang tahun ABRI. Bahkan ada sebagian kecil dari pasukan Yon 454 yang terlibat langsung dalam operasi penculikan para jenderal yang dilancarkan komplotan Gerakan 30 September. Mayor Sukirno sendiri ikut dalam rapat di Lubang Buaya sebelum upaya penculikan dilancarkan. Bahkan, pada 1 Oktober 1965 pagi, Sukirno menemani Brigjen Supardjo pergi ke Istana dengan maksud menemui Bung Karno melaporkan gerakan yang baru saja mereka lancarkan. Seperti diketahui, oleh komplotan Gerakan 30 September, pasukan Yon 454 dan Yon 530 diperintahkan bersiaga di sekitar Istana. Tapi kemudian, Mayjen Soeharto, Pangkostrad saat itu berhasil memaksa dua Wadanyon dua pasukan tersebut menghadap ke Kostrad. Dalam pertemuan itu Soeharto mengultimatum dua Wadanyon itu agar menarik pasukannya dari sekitar Istana dan masuk ke Kostrad. Namun hanya pasukan Yon 530 yang mematuhi ultimatum Soeharto. Sementara pasukan Yon 454 memilih hengkang dari sekitar Istana menuju kawasan Halim Perdanakusuma yang kemudian mereka terlibat dalam kontak tembak dengan pasukan RPKAD yang diperintahkan menduduki Halim. Nah, saat itu yang jadi Wadanyon 454 adalah Kapten Koentjoro. Koentjoro pula yang menghadap Pangkostrad di Kostrad bersama dengan Kapten Sukarbi dari Yon 530. Seperti dikutip dari buku," Di Hadapan Mahmillub 2 di Jakarta: Perkara Untung," yang diterbitkan Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat, dalam kesaksiannya di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, Kapten Koentjoro mengungkapkan, bahwa selepas ia menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto di Makostrad dan diultimatum agar membawa anak buahnya ke Kostrad, dia kembali ke pasukannya. Ia lalu menyampaikan hasil pertemuannya dengan Pangkostrad ke anak buahnya. Ketika dia sedang berbicara dengan anak buahnya, Komandan Batalyon 454 Mayor Sukirno tiba-tiba datang. Mayor Sukirno lalu memberikan briefing dan mengatakan, pasukan Yon 454 harus tetap siaga di sekitar Istana, karena ini adalah perintah dari Panglima Besar Revolusi Bung Karno. Setelah memberikan briefing singkat, Mayor Sukirno meninggalkan tempat. Nah sebelum Mayor Sukirno naik ke jipnya, Kapten Koentjoro menghampirinya. Saat itulah, Kapten Koentjoro bertanya mengenai perintah atau ultimatum dari Mayjen Soeharto agar pasukan Yon 454 bergabung ke Kostrad. Koentjoro bertanya kepada Mayor Sukirno, apakah perintah itu harus dipatuhi. "Saya tanyakan kepada Mayor Kirno karena tadi ada perintah dari Pak Harto , dan sekarang ada perintah dari Mayor Kirno yang katanya perintah dari Pimpinan Besar Revolusi, maka mana yang harus kita kerjakan," kata Kapten Koentjoro dalam kesaksiannya. Mendengar pertanyaan itu, menurut kesaksian Koentjoro, Mayor Sukirno komandannya itu marah. Dia menyemprot Koentjoro. "Kamu tahu peraturan atau tidak? Mestinya perintah terakhir adalah dari yang lebih tinggi pangkatnya. Karena itu saya tidak menghadap masuk ke Kostrad," begitulah jawaban Mayor Sukirno ketika ditanya Kapten Koentjoro apakah perintah Mayjen Soeharto harus dipatuhi atau tidak.