У нас вы можете посмотреть бесплатно Kabar Gembira untuk Petani Tanjungsari, PU Kabupaten Bogor Turun Survei Saluran Cikumpeni или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kabar Gembira untuk Petani Tanjungsari, PU Kabupaten Bogor Turun Survei Saluran Cikumpeni Kabupaten Bogor, Viva Bogor — Kabar baik datang bagi para petani di Kecamatan Tanjungsari. Setelah sekian lama mengeluhkan kondisi pengairan yang terganggu, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) akhirnya turun langsung melakukan survei ke lokasi saluran irigasi Cikumpeni, Selasa (03/03/2026). Kehadiran tim dari PU Kabupaten Bogor bersama UPT Irigasi Jonggol menjadi angin segar bagi para petani yang selama ini kesulitan mendapatkan pasokan air secara maksimal untuk mengairi sawah mereka. Untuk sementara, para petani bisa bernapas lega karena perbaikan saluran induk Cikumpeni dipastikan segera dilakukan. Kerusakan pada aliran Sungai Cikumpeni diketahui terjadi akibat longsoran pasir abu yang diduga berasal dari bekas aktivitas perusahaan, yakni eks PT Bumi Mineral. Material longsor tersebut menutup sebagian aliran sungai dan menyebabkan penyempitan saluran, sehingga debit air yang mengalir ke areal persawahan menjadi tidak optimal. Selain di aliran Sungai Cikumpeni, tim juga melakukan peninjauan di Bendungan Pandit yang menjadi bagian penting dalam sistem pengairan di wilayah tersebut. Dari hasil survei awal, ditemukan adanya pasangan tembok pada saluran induk di titik HM 2 yang terdorong akibat pergerakan tanah. Akibatnya, lebar saluran menyempit dan menghambat kelancaran aliran air. UPT Irigasi Jonggol, Sumaryono, menjelaskan bahwa pihaknya turun langsung untuk memastikan langkah penanganan yang tepat. “Hari ini kami melakukan survei lokasi untuk penanganan kerusakan pada saluran induk di HM 2. Ada pasangan tembok yang terdorong oleh pergerakan tanah sehingga lebar saluran menyempit dan aliran air tidak maksimal. Kami hadir untuk melakukan penanganan di titik tersebut,” ujarnya di lokasi. Ia menambahkan, dalam beberapa minggu ke depan pihaknya berencana menurunkan alat berat guna memperbaiki bagian saluran yang terdampak. Selain itu, ditemukan pula sedimentasi atau pendangkalan di Sungai Cipareang pada KM 3 yang akan ditangani menggunakan alat berat berukuran lebih kecil. “Mudah-mudahan dalam minggu-minggu ini alat berat bisa segera diturunkan dan pekerjaan dapat terealisasi. Kami berharap persoalan penyempitan dan pendangkalan ini bisa segera terselesaikan,” tambahnya. Namun demikian, Sumaryono menjelaskan bahwa jadwal penurunan alat berat masih harus dikoordinasikan lebih lanjut, mengingat ketersediaan alat berat milik PU digunakan untuk seluruh wilayah Kabupaten Bogor. “Saat ini alat berat masih digunakan di wilayah Babakan Madang. Mudah-mudahan pekerjaan di sana selesai minggu ini, sehingga alat bisa langsung kami kirim ke Tanjungsari,” jelasnya. Sementara itu, perwakilan PU Kabupaten Bogor dari Workshop Peralatan dan Perbengkelan, Makmur, mengatakan bahwa proses pengerjaan diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu, dengan catatan seluruh proses berjalan lancar tanpa hambatan. “Estimasi pengerjaan kurang lebih satu minggu. Namun kami juga harus memperhatikan akses jalan untuk menurunkan alat berat, termasuk koordinasi dengan pihak wilayah dan pemilik kebun setempat. Kami akan melihat apakah akses melalui area eks PT Bumi Mineral memungkinkan untuk dilalui alat berat jenis PC 200,” ungkap Makmur. Dengan adanya langkah cepat dari pemerintah daerah ini, para petani Tanjungsari berharap perbaikan saluran irigasi Cikumpeni dapat segera terealisasi sehingga pasokan air kembali normal. Perbaikan ini dinilai sangat penting, terutama untuk menjaga produktivitas pertanian dan mencegah potensi gagal panen di musim tanam mendatang. Kini, harapan besar tertuju pada kelancaran proses koordinasi dan percepatan penanganan di lapangan, agar pengairan sawah di Tanjungsari dapat kembali optimal seperti sediakala. Dedi Ruswandi| VIVA Bogor