У нас вы можете посмотреть бесплатно MENGUAK FAKTA GERBANG AMSTERDAM YANG JARANG ORANG TAHU или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
MENGUAK FAKTA GERBANG AMSTERDAM YANG JARANG ORANG TAHU Amsterdamsche Poort atau Pinang Poort atau Kastil Poort adalah gerbang masuk ke kota Batavia yang letaknya dekat pelabuhan Pasar Ikan. Setelah tembok benteng kota Batavia diruntuhkan maka fungsi gerbang ini adalah untuk menyambut tamu yang baru saja tiba di Batavia dengan menumpang kapal laut. Karena - jalan utama dari pelabuhan Pasar Ikan ke Stadhuis atau Museum Fatahilla itu - memang yang melewati Gerbang Amsterdam ini. Untuk itulah Stasiun tram paling ujung di Utara ditempatkan tidak jauh dari pelabuhan Pasar Ikan untuk memudahkan tamu kota mengeksplore kota Batavia. Gerbang ini dilengkapi dengan dua patung yakni Mars dan Minerva dimana ke dua patung tersebut justru menghadap ke Selatan atau Stadhuis (Museum Fatahilla) bukannya ke Utara untuk menyambut para “tamu”. Selain keberadaan patung dibagian atas gerbang juga dihiasi oleh delapan buah botol besar. Gerbang Amsterdam itu dulunya dilengkapi oleh bangunan sayap kiri dan kanan ya... Namun oleh karena jalur tram kuda dibuat melalui samping kanan gerbang - maka bangunan sayap kiri dan kanan harus diratakan tentunya agar tram bisa lewat. Jl. Cengkeh itu dulunya bernama Prinsenstraat. Pada dokumentasi tahun 1867 bangunan sayap Gerbang Amsterdam masih eksis. Diperkirakan pada tahun 1868-1869lah bangunan sayap dibongkar. Namun begitu yang menarik adalah berdasarkan dokumentasi bahwa ternyata pada tahun 1870 jalur ganda tram kuda tidak lewat samping kanan tetapi lewat pintu gerbang. Pada dokumentasi tahun 1880-lah jalur tram sudah dibelokan lewat samping gerbang. Sementara lokasi stasiun tram Gerbang Amsterdam saat itu adalah di samping kanannya. Ada dokumentasi menarik yang diabadikan pada tahun 1870 yakni double track tram kuda ditempatkan langsung melalui pintu Gerbang Amsterdam. Namun kemudian untuk memperhatikan faktor keselamatan maka jalur tram kuda dibelokan ke kanan dari Gerbang Amsterdam dan itu terekam kamera pada tahun 1880. Nah pada dokumentasi ini kita juga bisa melihat stasiun tram (kuda) Gerbang Amsterdam ada pada latar belakangnya dan belum pindah ke samping kanannya. Pada awalnya bentuk stasiun tram uap ini seperti huruf A ya.... Namun dengan berjalannya waktu dan berdasarkan dokumentasi pada tahun 1910’an entah mengapa atapnya berubah menjadi huruf W? Perhatikan juga suasana teduh di Jl. Cengkeh yang ada di samping stasiun ini karena di kiri dan kanannya berjejer pohon yang tinggi dan berdaun rindang. Pada tahun 1918 dibangunlah viaduct yang diatasnya ada jalur kereta dari St. Duri ke St. Kp. Bandan. Itu artinya pada saat itulah St. Duri dan St. Kp. Bandan tersambung. Pada tahun 1870’an hingga tahun 1880’an dibangunlah sekitar 90’an unit sumur artesis di kota Batavia. Dari sumur-2 itulah air bersih dialirkan melalui pipa-2 dengan jarak tertentu ke hydrant. Nah pada dokumentasi tahun 1870 hydrant belum lagi hadir di Gerbang Amsterdam namun pada tahun 1880 satu unit hydrant telah tersedia di sisi kiri Gerbang Amsterdam. Dari dokumentasi yang ada sering nampak para pedagang pikulan mengambil air bersih dari hydrant ini. Mudah ditebak bahwa tidak jauh dari Gerbang Amsterdam pasti ada sumur artesis. Ada yang menarik ya…saat memeriksa dokumentasi di sekitar Gerbang Amsterdam. Kita dapat menemukan kehadiran meriam Si Jagur yang legendaris itu. Entah mengapa dan sejak kapan ia harus teronggok di situ? Namun dari dokumentasi yang ada sudah sejak sebelum tahun 1900 ia diterlantarkan di situ. Tetapi oleh kalangan tertentu ia dijadikan sosok yang layak diberi sesajen! Nah…di sekitar Gerbang Amsterdam ini juga diketahui ternyata dijadikan sebagai spot tempat para pedagang pikulan berkumpul. Hal ini bisa dibuktikan dari dokumentasi berikut. Namun sepertinya di lokasi itu dijadikan sebagai pasar juga dalam ukuran yang terbatas tentunya. Hal ini wajar saja ya karena Jl. Cengkeh bersama Jl. Tongkol menjadi jalan utama dari pelabuhan Pasar Ikan ke Stadhuis atau Museum Fatahilla. Dengan demikian itu berarti bahwa ini adalah jalan yang ramai. Pada dokumentasi tahun 1930 sudah hadir di Gerbang Amsterdam warung makan yang kalau dibandingkan dengan masa kini itu adalah warteg alias warung Tegal. Warteg ini menjual makanan dan minuman. Banyak dari penumpang tram yang turun di Stasiun Tram Amsterdam mampir untuk makan atau minum di situ. Perlu diketahui bahwa lokasi dari warteg ini sudah sangat dekat ke stasiun itu. Patung Mars dan Minerva yang menjadi ornament pada Gerbang Amsterdam ini diakui memang indah. Namun pada masa penjajahan Jepang (1942-1945) patung ini hilang tak berbekas, tidak jelas siapa yang mengambilnya. Kejadian itu seolah-olah menjadi awal dari kehancuran Gerbang Amsterdam maka kelanjutannya yaitu pada tahun 1950 gerbang ini diratakan karena mengganggu jalan! Sumber foto : digitalcollections.universiteitleiden.nl; tropenmuseum; KITLV; e-bay.com; delcampe.net; google earth;