У нас вы можете посмотреть бесплатно Detik-Detik MENGHARUKAN, Seorang calon BIARAWATI memasuki BATAS PINTU KLASURA BERPISAH dari KELUARGA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Dalam video kali ini saya sejenak kembali mengajak kita mendalami satu kekayaan dalam Gereja kita yaitu perihal cara hidup membiara kontemplatif. Nah dalam video ini saya tayangkan satu cuplikan di mana seorang calon suster akan memasuki biara kontemplatif, menjadi anggota biara itu dan secara otomatis terpisah secara fisik dengan keluarga. Tentu sangat mengharukan detik-detik di saat sang calon suster akan berpisah dari keluarga untuk masuk dalam hidup membiara. Silahkan kita saksikan sejenak. Cara hidup membiara ini ternyata dapat dibedakan setidaknya menjadi dua bagian yaitu hidup religius aktif dan religius kontemplatif. Hidup religius aktif adlaah para religius, biarawan-biarawati yang menghayati panggilan hidupnya dengan secara langusng sterjun pada pelayanan—pelyanan publik misalnya melayani orang miskin, mendidik para murid, mengajar iman. Karya-karya itu adalah wujud kecintaan mereka pada Allah dan sesama. Nah, itu kalau hidup religiius aktif. Berbeda lagi dengan para religius kontemplatif. Atau sering juga disebut para suster atau frater bertapa. Kontemplatif adalah suatu cara hidup yang dengan sengaja dan sadar memilih untuk memusatkan diri pertama-tama untuk hubungan mesra dengan Tuhan lewat hidup doa yang ketat. Mereka memilih untuk mencintai Tuhan dengan cara yang khas yaitu berjumpa dengan tuhan dalam doa yang lebih intens. Dan secara otomatis pula cara hidup mereka ini menjadi jalan mereka untuk melayani sesama, mencintai sesama walau mereka tidak secara langsung dan fisik berhubungan dengan sesama yang mereka layani. Kalau para suster atau frater dalam hidup religius aktif mencintai sesama dengan perbuatan yang memang sungguh konkret secara fisik, tapi para religius kontemplatif melayani dalam cara yang khas yaitu lewat berdoa bagi seluruh umat manusia. Greja menyebut mereka sebaagi jantung gereja. Jantung itu tidak kelihatan secara fisik, karena merupakan organ dalam tubuh manusia, tapi jantung sunguh penting mengalirkan darah yang membawa energi bagi seluruh anggota tubuh. Demikianlah pula dengan hidup kontemplatif yang mengalirkan energi yaitu berkat tuhan kepada seluruh manusia lewat doa-doa yang tulus dan intens yang mereka panjatkan kepada Tuhan setiap hari. Mereka mau mengalami tuhan secara lebih intens lewat doa, karena itulah mereka sangat menjunjung tinggi keheningan. Karena memang keheningan adalah syarat mutlak untuk bertemu dengan Tuhan. silahkan ingat kisah dimana nabi elia justru meraskan Tuhan dalam keheningan. Ingat pula kisah dalam injil di mana Yesus memang mengusahakan berdoa dalam hening setiap hari untuk bisa berjumpa dengan bapanya. Karena keheningan adalah syarat mutlak berjumpa dengan Allah maka lihatlah bahwa para suster atau frater atau bruder kontemplatif memilih dengan sadar memisahkan diri dari kesibukan dan kebisingan dunia. Itulah yang mereka tandai dengan pintu masuk klausura. Jadi seperti kita lihat dalam video tadi, pintu masuk itu adalah pintu masuk seorang anggota biara ke dalam bagian biara yang hening itu yang disebut dengan klausura. Klausura adlah bagian biara yang dikhususkan hanya untuk para anggota biara itu saja. Para biarawan-biarawati kontemplatif menghabiskan hidupnya hanya di bagian klausura yang memang sangat terbatas itu. Jadi mereka ibarat hanya hidup dalam wilayah dalam tembok klausura biara. Jadi jangan bayangkan bahwa seorang suster kontemplatif bisa bebas keluar masuk klausura biara, jangan bayngankan bahwa mereka akan dengan gampang kita jumpai di pasar, di rumah sakit atau di sekolah seperti suster-suster dan pra bruder frater tarekat aktif. Bahkan untuk bertamu saja dengan mereka ada aturan khussus. Bertamu dengan mereka tentu berbeda dengan bertamu dengan para anggota religius tarekat aktif. Ingat, bahwa memamng secara fisik mereka sudah memisahkan diri secara lebih ketat dari dunia, bukan karena melihat negatif dunia, tetapi agar konsentrasi mereka memang hanya tertuju pada Allah. Karena itulah mereka tidak terlalu banyak menerima tamu. Dengan terlalu banyak menerima tamu bisa membuat mereka kehilangan konsentrasi, misalnya kalau keluarga asalnya hampir setiap hari datang bertamu dan bercerita tentang keadaan di rumah, hal ini bisa saja membuat seorang kontemplatif akan kepikiran terus dengan keluarganya. Padahal dia sudah memasuki pintu klausura, dengan konsekuensi memang dia sudah mengambil jarak secara lebih ketat dari persoalan dunia.