У нас вы можете посмотреть бесплатно NAFAS YANG MENGENAL NAMA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
NAFAS YANG MENGENAL NAMA #BANI313 #WTQ313 Dalam diam yang lebih tua dari suara, aku tidak memanggil-Mu— Engkaulah yang lebih dahulu memanggilku melalui nafas yang keluar-masuk tanpa izin diriku. Hu… aku hanyalah pintu, dan Engkau adalah Yang keluar-masuk tanpa pernah pergi. Dahulu aku menyebut hidup sebagai milikku, menyebut langkah sebagai pilihanku, padahal semua hanya pinjaman yang lupa mengaku. Aku menyusun nama untuk diriku, menghiasnya dengan amal dan harap, lalu berdiri bangga di hadapan bayang sendiri. Di sanalah aku tersesat— bukan karena gelap, melainkan karena terlalu yakin bahwa aku bercahaya. A‘ūdzu billāhi… aku berlindung dari pengetahuan yang tidak melahirkan tunduk, dari rasa yang tidak melahirkan takut, dari ibadah yang masih menyisakan aku. Dalam satu tarikan nafas, aku menyaksikan: hidup ini tidak berdiri sendiri, ia bersandar pada Kehendak yang tak pernah tidur. Ada Nur yang lebih dulu ada sebelum waktu belajar berdetak, Nur Muhammad— rahasia pertama yang menjadi jembatan antara Yang Maha Ghaib dan semesta yang terlihat. Melalui Nur itu aku mengenal arah tanpa peta, mengenal pulang tanpa perlu pergi. Ya Allah… ajarilah aku mati setiap saat aku bernafas, agar kematian tidak lagi mengejutkanku. Hancurkan aku yang merasa sampai, yang merasa tahu, yang merasa dekat padahal masih terhalang diri. Biarkan hanya kehendak-Mu yang berjalan di kakiku, hanya cinta-Mu yang bergetar di dadaku, hanya nama-Mu yang berdiam di lidah hatiku. Jika kelak nafas ini Kau ambil kembali, terimalah ia sebagai titipan yang pulang tanpa cacat, tanpa tuntutan, tanpa cerita tentang aku. Di hadapan para pewaris cahaya, aku memilih diam, sebab ilmu sejati tidak gemar bersuara. Hu Allah… aku tidak meminta apa-apa, sebab ketika Engkau ada, aku pun tiada. Hu Allah… dan dalam ketiadaan itulah aku akhirnya mengenal hidup