У нас вы можете посмотреть бесплатно SOP. NIKMAT SOP RACIKAN PROF. LAKS (PM LAKSONO) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#politikindonesia #antropologibudaya #musikalisasipuisikehidupan SOP RACIKAN PROF. LAKS | Menikmati ‘sop’ racikan Prof. Laks, pengsiungang guru besar antropologi UGM ini, sekali lagi saya menikmati panorama budaya Indonesia. Dan menjadi anomali, jika dirasa pada saat ini, ketika omongan politik (kekuasaan) seolah kagak ada habisnya menuh-menuhin medsos. Pensiun dari guru besar antropologi UGM, PM Laksono produktif menulis puisi. Sebagai antropolog, puisi-puisinya seolah field notes (pengamatan tertulis, deskripsi, dan refleksi yang dibuat oleh antropolog selama atau segera setelah melakukan pengamatan partisipan di lapangan. Sebuah catatan etnografis , dari sudut pandang orang dalam (native's point of view). Tapi, dalam Sop, Prof. Laks mengamati soal bahan baku untuk meracik masakan universal bernama 'sop' (sup,. soup). Sop, judul puisi PM Laksono, serasa unik, karena metafora yang dipakai, tidak lazim saya temu dalam puisi Indonesia mutakhir. Puisi ini bicara soal loncang seledri, wortel, kentang, kaldu, soal citarasa purba, akar budaya kita. Puisi ini tidak sedang bicara masakan, melainkan cara kebudayaan bekerja. Buffet dengan 70 jenis sop adalah alegori Nusantara. Beragam, berdampingan, tidak dilebur jadi satu, tapi berada dalam satu ruang makan. “Ini sop, itu sop” adalah pengakuan perbedaan tanpa hirarki. Menarik sekali lompatan dari etnografi ke biologi rasa. Loncom bening ala nenek dari Kulon Progo (salah satu kabupaten di DIY, daerah kelahiran Prof Laks), ke umami Ikeda, glutamate, sinyal saraf, saliva. Ehm, puisi ini berjalan dari ingatan kolektif ke tubuh biologis. Seolah ingin mengatakan sebelum jadi wacana, rasa sudah bekerja di saraf. Umami sebagai rasa purba (pra-bahasa). Bagian terkuat, menurut saya, justru saat puisi turun ke: “belo-pedet-gudel jabang bayi mendamba tandas ronta tangis lega cicip ASI” Apa-apaan ini, ada anak kuda, anak sapi, anak kerbau nongol di sini, sebagai jabang bayi mendamba? Di sini “sop” kembali ke kaldu asal-mula kehidupan. Umami bukan tren kuliner Jepang, tapi rasa pertama manusia: ASI, tulang, sumsum, kaldu, sesuatu yang menenangkan sebelum kita tahu kata “enak”. Puisi ini anti-sensasi, pro-ketenangan. Tidak ada letupan metafor berisik. Diksinya tenang, naratif, seperti sop bening itu sendiri. Bahkan pengetahuan (Ikeda, glutamate) tidak pamer, tapi larut. “Tersalin bening-gurih semangkuk kaldu sop,” begitu baris terakhir puisi ini. Ini bukan kesimpulan, tapi kelahiran ulang. Dari ASI ke sop. Dari tangis ke tenang. Dari kompleksitas ke kejernihan. Dari aneka, kebhinekaan menjadi tunggal rasa, tunggal keikaan. Puisi ini adalah meditasi tentang rasa, sebagai jalan pulang dari kebudayaan, tubuh, sampai asal-usul manusia. Puisi yang matang, tidak tergesa ingin tampak puitis. Ia tahu: yang paling purba memang tidak perlu teriak. Menurut keyakinan saya. @SUNARDIANWIRODONO SOP PM Laksono Pemilik resto buffet mengundangku makan siang Hidangan pembuka berderet keliling tepi dinding Kuliner Nusantara sebanyak tujuh puluh jenis sop Berhias luncang seledri, kuning kentang dan merah wortel Sayur loncom bening ala nenekku di Kulon Progo Sanding rawon, soto, konro hingga bruineboon Ini sop, itu sop, top bertabur bawang goreng Dalam kebhinekaan itu terkemas misteri rasa purba Asin-manis-asam-pahit menyatu gurih Terbayang tunggal rasa bubur sesaji panca warna Lebur sari rasa dalam kaldu rumput laut Jepang Ikeda mendaku leburan rasa itu umami Rasa dasar kelima dari asam amino glutamate Pancing saliva lekat lidah percik langit-langit mulut Penghantar signal saraf pada nalar dan suasana hati Menyantap susu, daging-tulang, sayur, sea food dan keju Belo-pedet-gudel jabang bayi mendamba Tandas ronta tangis lega cicip ASI Lepas rindu lezat nikmat gurih hingga Tersalin bening-gurih semangkuk kaldu sop Yogyakarta, 21 Januari 2026 -------- Don't follow the leader. Informasi lebih lanjut, bisa dilihat pada website: http://sunardianwirodono.com