У нас вы можете посмотреть бесплатно SERAT BAMBU BULAKSALAK | PUISI PM LAKSONO или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#antropomusica #musikalternatif #sastrakehidupan SERAT BAMBU BULAKSALAK | “Serat Bambu Bulaksalak”, puisi tulisan antropolog PM Laksono (pensiunan Guru Besar Antropologi UGM), memperlihatkan bagaimana perubahan sosial tidak lahir dari jargon Pembangunan. Melainkan dari pengenalan ulang relasi manusia dengan lingkungan materialnya. Ambil contoh perubahan sosial yang terjadi di dusun Bulaksalak, Cangkringan, Sleman (DIY ini, dalam amatan antropologis Prof. Laks yang kemudian dituliskannya sebagai puisi. Dengan judul ‘Serat Bambu Bulaksalak’, Prof. Laks menggoda tafsir kita mengenai frasa ‘serat’ secara homonym. Ini soal serat (cerita) tentang bambu atau serat dalam makna ‘fiber’. Sesuatu yang nyata, yang menyimpan jejak sejarah ekologis, luka eksploitasi, dan potensi pemulihan. Sekalipun mungkin saja, dia memang bisa bermakna ganda, cerita mengenai bambu, atau realitas sosial yang dihadirkan sebagai simbol romantic? Dengan menjejakkan narasi pada detail lanskap, pangan tani, dan limbah kota; puisi ini menunjukkan bahwa krisis sosial-ekologis, terjadi ketika manusia tercerabut dari pemahaman material atas alam yang menopangnya. Transformasi dalam teks ini berlangsung melalui apa yang disebut welat etnografis. Sayatan tipis pengetahuan yang tajam, namun tidak menggurui. Seperti bilah bambu yang halus tetapi melukai. Kajian antropologis bekerja membuka kebal nalar melalui kehadiran, praktik, dan keterlibatan, partisipasi. Dari tanam bambu, kerja kolektif, dan pembacaan ulang potensi lokal. Perubahan tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran yang perlahan terkuak. Ada warga, akademisi, dan jejaring lain yang berbaur dalam proses belajar bersama. Penyair ingin menegaskan bahwa mengenali manusia berarti mengenali lingkungan yang membentuk tubuh, kerja, dan imajinasinya. Serat bambu menghubungkan alam, ilmu, dan industri tanpa meniadakan etika, apalagi ethic ndhasmu. Ia menjadi medium di mana tragedi ekologis dapat diolah menjadi harapan sosial. Dengan demikian, antropologi tampil bukan sebagai disiplin yang menjelaskan dari kejauhan, melainkan sebagai praktik yang menyayat lembut. Cukup tajam untuk membuka, cukup bijak untuk memulihkan. Sayangnya, dalam kerja-kerja atau proyek-proyek pembangunan serta kebijakan-kebijakannya, jarang melibatan para ahli, apalagi dari antropologi, yang bisa jadi dianggap justru mengundang beban. * SERAT BAMBU BULAKSALAK PM Laksono 1 Dudukku di bawah naungan hutan bambu mini Pinggir tebing kali Opak Bulaksalak kaki Merapi Teduh sejuk suasana naungan hutan wisata Di lapak bambu tersaji nasi megana, lodèh dan dawet Makanan kaum tani seharga gobang-gobang bambu cantik Cerah biru langit panas matahari tak tembus Lantai hutan bersih semak belukar tinggal rumput gajah Di bawah karpèt rumput dan humus bambu terekam sejarah kelam Banjir truk pasir dan batu ba’da érupsi Merapi Tambang tebing tinggal gurun menganga Tiba picik nalar tambah sengsara Buang limbah métabolisme hidup modern Segar sejuk indah alam lembah tersingkir Menangis pun bumi tak sanggup kering sudah mata air Hulu Opak penuh sampah sembur gas Busuk sebusuk busuknya busuk Kemurahan ibu pertiwi dibayar tinja kota 2 Secercah cahaya tembus lengkung singup tajuk Tajam bak Laser dokter bedah kanker otak Bebal terkuak welat ètnografi tanam bambu Siang malam warga insyaf pulihkan hutan tepi Opak Tinggal pasir batu jualan bambu ke negeri India Sejarah terintis kecil cerah penuh harapan Warga, mahasiswa, dosèn, donor, tèknokrat berbaur Bahas potènsi bambu ubah tragedi pinggir dusun Wacana dari panggung, ke atas méja-kursi lénong bambu Terlaminasi glossy seratnya cèkli memikat mata Para pemburu èksotika bahan organik cuan industri Sumpit pengganti jari-jari peradaban makan Hingga lampit, parkèt lantai, bahkan celana dalam Semua membayangkan panjang lembut lurus serat Indah beruas bagai dèrèt éja huruf tersela bait puisi Membungkus lodèh, gudeg, lumpia rebung Serta nasi bacang berbungkus daun bambu Yogyakarta, 25 Januari 2026 Salah satu contoh, bagaimana antropologi menjadi welat etnografis, yang bisa mendorong proses transformasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Ialah dengan mengenali dan memahami manusia dengan lingkar kehidupannya. | @SUNARDIANWIRODONO Tayangan video khusus untuk yang tidak fanatik pada pilihannya. Mau mendengarkan pihak lain. Santun berkomentar. Don't follow the leader. Hubungi email : sunardianituwirodono.com Informasi lebih lanjut, bisa dilihat pada website: http://sunardianwirodono.com