У нас вы можете посмотреть бесплатно Di Sidang CLS Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Ditanyai Kapasitas sebagai Ahli, Sebut Tak Butuh SCOPUS или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa mendapat pertanyaan dari kuasa hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yusuf Wibowo mengenai kapasitasnya sebagai ahli dari pihak penggugat di sidang citizen lawsuit (CLS) kasus ijazah Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Adapun Dokter Tifa hadir sebagai saksi ahli dalam sidang CLS ijazah Jokowi yang digelar di Pengadilan Negeri Surakarta pada Selasa (24/2/2026). Ia tak sendiri, ada Bonatua Silalahi yang juga didatangkan sebagai saksi ahli di perkara tersebut. Dokter Tifa merupakan salah satu tersangka dalam kasus ijazah Jokowi yang berada dalam klaster yang sama bersama pakar telematika Roy Suryo dan ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar. Saat menjadi saksi ahli di sidang CLS kasus ijazah Jokowi, Dokter Tifa menerangkan bahwa dirinya merupakan kandidat doktor di dua bidang ilmu. Yakni, kandidat doktor di bidang ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan bidang ilmu politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (UNPAD). "Saya saat ini adalah kandidat doktor dua bidang ilmu; ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang neurosains, yang kedua saya menjadi doktor pada bidang Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran dalam bidang ilmu politik," tutur Dokter Tifa dalam sidang. "Kedua ilmu yang diametral itu, saat ini saya gabungkan menjadi sebuah ilmu baru yang disebut sebagai neuropolitika." "Oleh karena itu, maka saya harus belajar di Fakultas Kedokteran dalam bidang neurosains, dalam bidang ilmu otaknya. Lalu, saya belajar juga di ilmu sosial politik untuk mendapatkan masalah dan bagaimana solusikan pertanyaannya." Editor: Djohan Nur Uploader: Djohan Nur